Kotak peralatanBahasa lain |
HanacarakaHanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura, Sunda, Bali, Palembang, dan Sasak). Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesukukataan). Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. Sebagai contoh : Bila diucapkan, susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat: Hana Caraka (Terdapat Pengawal); Data Sawala (Berbeda Pendapat); Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya); Maga Bathanga (Keduanya mati). Adapula tafsir berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX, Raja Kasunanan Surakarta. Tafsir tersebut adalah:
[sunting] AksaraJumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut.
[sunting] Makna HurufHa Hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara - pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi - arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal Ra Rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana - hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan - menerima hidup apa adanya Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa - mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup Sa Sifat ingsun handulu sifatullah - membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan Wa Wujud hana tan kena kinira - ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas La Lir handaya paseban jati - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi Pa Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah yang ada disegala arah Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar Ja Jumbuhing kawula lan Gusti - Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi - yakin atas titah/kodrat Illahi Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki - memahami kodrat kehidupan Ma Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin/mantap dalam menyembah Ilahi Ga Guru sejati sing muruki - belajar pada guru nurani Ba Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam Tha Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan Nga Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme pribadi manusia. [sunting] PasanganJika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesukukataan), bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati. Hal ini bisa dijawab dengan adanya pasangan. Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri) konsonan dengan suku kata berikutnya. Sebagai contoh kata "banda" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ban" dan "da". Suku kata yang pertama suku kata ban. Untuk menuliskan ban ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara Ba terlebih dahulu. Kemudian menuliskan aksara Na karena aksara Na mewakili dua buah huruf latin yakni N dan A sehingga kita tidak bisa langsung menuliskan aksara da. Untuk mematikan huruf Na, maka kita harus menuliskan bentuk pasangan da. Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya. Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan sehingga menjadi konsonan. Pada kasus di atas aksara Na diikuti pasangan Da yang berarti Na akan dibaca sebagai N. Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masing-masing. Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara. Bentuk-bentuk pasangan itu adalah: [sunting] Aksara Murda[sunting] Kegunaan Aksara MurdaPada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan
(Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya) [sunting] Aksara Murda dan PasangannyaSebagai catatan mengenai aksara murda ini bahwa tidak semua aksara yang ada di Hanacaraka memiliki bentuk Murdanya. Aksara murda dalam Hanacaraka hanya berjumlah 7 buah. Bentuk Murda dalam hanacaraka juga memiliki bentuk pasangan yang memiliki fungsi sama dengan pasangan dalam aksara Jawa. Bentuk Aksara Murda serta Pasangan Murda [sunting] Aturan PengunaanUntuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksara-aksara pokok di Hanacaraka, ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni :
[sunting] Contoh Pemakaian Aksara MurdaUntuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini, contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. Contoh: [sunting] Aksara Swara[sunting] Kegunaan Aksara SwaraAksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata, terutama yang berasal dari bahasa asing, untuk mempertegas pelafalannya. [sunting] Bentuk Aksara SwaraAksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan. adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut : [sunting] Aturan Penulisan Aksara SwaraDalam menuliskan Aksara Swara, diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut :
[sunting] Contoh Penggunaan Aksara SwaraUntuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini, contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. Contoh: [sunting] Aksara Rekan[sunting] Kegunaan Aksara RekanPerlu diakui bahwa bentuk-bentuk huruf yang ada di dalam Hanacaraka tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam penulisan kata-kata dari manca negara. Sebagai salah satu bentuk asimilasi budaya ini, maka dibentuklah aksara rekan yang pada perkembangannya lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa arab. Aksara rekan digunakan untuk menuliskan aksara konsonan pada kata-kata asing yang masih dipertahankan seperti aslinya. [sunting] Bentuk Aksara Rekan dan Pasangan RekanAksara Rekan dalam Hanacaraka ada 5 buah, yang kesemuanya memiliki bentuk pasangan. Adapun bentuk aksara dan pasangan rekan itu digambarkan di bawah ini: [sunting] Aturan Penulisan Aksara RekanUntuk menggunaan Aksara Rekan beserta pasangannya diikuti aturan sebagai berikut :
[sunting] Contoh Penggunaan Aksara RekanBerikut ini adalah daftar aksara rekan dan aksara pasangannya yang dilengkapi dengan contoh penggunaan masing-masing aksara. [sunting] Alasan dipakainya sandanganSandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. Di dalam tulisan jawa, aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian, yakni / / dan /a/.
Sandangan di dalam aksara jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut :
[sunting] Sandangan bunyi vokalSandangan bunyi vokal ada lima buah. Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah : [sunting] Pemakaian Sandangan WuluSandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain, maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri. [sunting] Pemakaian Sandangan SukuPenulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu :
[sunting] Pemakaian Sandangan PepetKegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata. Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut:
Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le). [sunting] Pemakaian Sandangan TalingSandangan taling dipakai untuk melambangkan bunyi vokal e atau e yang tidak ditulis dengan aksara swara E yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata. Sandangan taling ditulis di depan aksara yang dibubuhi sandangan itu. Catatan: Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling, maka dalam perangkat lunak ini gunakan:
[sunting] Pemaikaian Sandangan Taling TarungSandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu. Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg). Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha), (sa), dan (pa), maka taling ditaruh didepan aksara sigeg, sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan. [sunting] Sandangan penutup suku kataSandangan penutup suku kata ada 4 buah. [sunting] Pemakaian Sandangan WignyanSandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. [sunting] Pemakaian Sandangan LayarHampir sama dengan sandangan wignyan, sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku). Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti. [sunting] Pemakaian Sandangan CecakSandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata). ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak, yakni :
[sunting] Pemakaian Sandangan PangkonTidak seperti ketiga sandangan sebelumnya, sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi. Fungsi-fungsi itu adalah :
[sunting] Sandangan gugus konsonanGugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata. sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. suku kata kra memiliki gugus konsonan kr. Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan. [sunting] Sandangan CakraSandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu. Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra, cecak, cakra la, cakra wa. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet, maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret. [sunting] Sandangan Cakra KeretSandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet. Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu. [sunting] Sandangan PengkalSandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal. [sunting] Singkatan atau akronimSingkatan adalah kependekan bentuk (kata atau kelompok kata) yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dilafalkan huruf demi huruf ataupun yang tidak. Sedangkan Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Singkatan dan akronim itu lazimnya dibuat berdasarkan atas tulisan beraksara latin. Untuk singkatan yang tidak dapat diucapkan sebagai mana layaknya sebuah kata, maka penulisannya adalah seperti apa yang terucap dari singkatan itu. Sedangkan akronim yang bisa diucapkan sebagai kata, maka dituliskan sebagai mana layaknya sebuah kata. Untuk menuliskan singkatan pada perangkat lunak ini, gunakan huruf besar semua. contoh : PPKI, PPPK, MPR, DPR dan lain sebagainya [sunting] Angka dan lambang bilangan
Contoh :
Untuk menuliskan satuan dari suatu bilangan, maka satuan itu bisa dituliskan dalam bentuk kata lengkapnya. sebagai contoh kilogram, meter, kilometer, dan sebagainya. Pada Perangkat lunak ini juga mendukung perubahan bentuk huruf dari bentuk satuan (tidak normal) ke bentuk pengucapannya. Adapun dukungan satuan/besaran yang ditangani yakni : Tabel tak normal dan kata normal. [sunting] Tanda bacaDalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat, paragraf dan lainnya. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni :
Adeg adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea.
Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(,). Contoh: wong gedhe, dhuwur, lan pakulitane ireng.
Pada lungsi dipakai pada awal suatu kalimat. Tanda ini hampir setara dengan titik. Contoh: wis meh jam telu esuk, sumini durung bisa turu. pikirane goreh. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih.
[sunting] Pranala luar
|